Posted by: umukamilah on: Oktober 25, 2009
Poligami.. Dari dulu memang topik yang sensitif. Tersentil sedikit maka akan ada reaksi yang bergelombang, susul menyusul, kadang serentak, pro maupun kontra. Saya seorang wanita, teramat memahami reaksi penentangan yang terjadi dari pihak wanita. Bayangan dimadu adalah hal sulit, menyakitkan, penuh kecemburuan, wajar terjadi di benak para wanita. Tetapi… ternyata banyak juga wanita yang berada dalam rumah tangga poligami. Dan hal itu adalah fakta. Kenapa ya?
Tak Ada Yang Tak Mungkin
Jika penasaran ingin tahu apa sebabnya. Rasanya tindakan bijak yang harus kita ambil adalah bertanya langsung kepada para wanita yang berada dalam lingkup rumah tangga poligami. Setelah itu mungkin sedikit banyak kita akan bisa memahami alasan mereka berpoligami. Kendati, tak menutup kemungkinan alasan mereka sangat sulit kita terima. Bahkan mungkin sekali kita tak akan pernah mempercayai apa yang kita dengar dari mereka.. Unbelievable! Tak mungkin! Mana ada wanita yang mau dimadu.. Tetapi kenyataannya ada bahkan gak cuma satu dua.. banyak. Hmmm! Kalau begitu pastinya karena terpaksa, takut sama suami, mmm ketergantungan secara ekonomi terhadap suami, mmm rendahnya tingkat pendidikan, bla…bla…bla.
Tak ada yang tak mungkin… Jika Allah Yang Membolak-balikkan hati Menghendakinya. Kenapa kita tak memikirkan alasan keyakinan dan keimanan mereka. Mereka yang berbahagia dalam hidup poligami sangat meyakini dan mengimani bahwa segala sesuatu yang bersumber dari-Nya adalah yang terbaik untuk makhluk ciptaannya. Ibaratnya nih, perlakuan terhadap sebuah sepeda motor merek tertentu, tentunya pabrik pembuatnyalah yang paling tahu sepeda motor itu mesti diapakan. Demikian juga kita manusia, Allah Yang Menciptakan kitalah yang paling mengetahui apa aturan terbaik yang harus diberlakukan kepada kita. Sedang kita tak tahu apa yang terbaik untuk kita… Baca entri selengkapnya »
Posted by: umukamilah on: Oktober 15, 2009
Dulu.. bertahun lalu. Kami duduk di teras depan rumah. Aku bersama dua akhwat asyik ngobrol ngalor ngidul sambil menebarkan pandang ke hamparan hijau di depan mata.
Setelah bincang-bincang itu berganti-ganti topik untuk ke sekian kalinya, tibalah kami pada suatu topik yang lantas kusikapi dengan komentar:
“Ya.. seperti hadits yang pertama kali kita hapalkan dalam hadits arba’in… innamal a’malu binniati…”
Kata-kataku terpotong oleh kalimat yang terucap lirih oleh salah satu akhwat,”munafik, orang hanya bisa bicara tapi gak berani menanggung resikonya..”
Lirih, memang. Tetapi tertangkap jelas olehku yang kemudian terperanjat kaget. Tapi perbincangan tetap kulanjutkan seolah tak mendengar apapun. Nada bicara, maupun warna suara kuusahakan tetap wajar. Kendati hati seolah diamuk tsunami.
Waktu beranjak malam. Sibuklah aku mengoreksi diri malam itu. Berusaha jujur dalam kerapuhan seorang “aku” yang kadang egois melakukan pembelaan diri. Baca entri selengkapnya »
Posted by: umukamilah on: September 29, 2009
Justru saat deraan pedih datang bertubi-tubi. Saat itulah inspirasi terindah merentang bak pelangi warna-warni. Ketika air mata tumpah, menyungkur sujud, pasrah, saat itulah inspirasi menyapaku dan memaksa jemari menari di atas kertas kosong berpasangan dengan bolpen hitamku.
Meski kadang tak ingin aku posting-kan. Setidaknya itu memperkaya koleksi di dalam lembaran-lembaran buku. Suatu saat ia atau mereka -tulisan-tulisan itu- akan mampu melecutkan semangat menulis yang mengendur dengan mencercahkan inspirasi-inspirasi baru.
Inspirasi terindah itu muncul tiba-tiba karena Allah yang mengilhamkannya. Membantu melapangkan kesesakan. Lega melanjutkan rajutan hidup dengan semangat baru. Apa jadinya jika yang terjadi adalah kalut yang kian pekat atau pikiran keruh yang semakin merajalela. Tentunya sampai kapan pun kita akan terus terpuruk tanpa mampu bangkit optimis. Semua inspirasi terindah adalah karena Dia sangat menyayangi hamba-Nya. Saat Dia mengatur setiap aktifitasku agar aman dari potensi melakukan kekeliruan. Aku merasakan Allah Tabaraka Wa Ta’ala menyelamatkanku dengan cara-Nya yang sukar ditebak. Wah siapalah aku ini… teramat hina. Hanyalah sebutir pasir dari luasnya pantai. Tapi subhanallah… teramat banyak karunia-Nya kuraih. Entah sudah berapa banyak. Baca entri selengkapnya »
Posted by: umukamilah on: September 5, 2009
Lagi-lagi… Islam diuji. Heboh tentang teroris. Orang-orang yang berbusana seperti Tuanku Imam Bonjol atau Pangeran Diponegoro, yakni berjubah dan bersorban akan menyedot perhatian. Busana Islami jadi sorotan. Tak terkecuali hijab muslimah. Semoga semua pihak dapat lebih bijak memandang dan menyikapi. Pakaian mungkin serupa, namun isi kepala belum tentu sama bahkan mungkin bertentangan.
Cadar… memakainya harus pula menyadari konsekuensinya. Tanpa ada kasus bom saja sudah dilihat aneh oleh sebagian masyarakat, ditambah lagi ada kasus bom.
Berhijab, tak berarti kita menutup diri dari bergaul dengan masyarakat sekitar. Jika kita pandai-pandai bergaul dengan tetangga. Memasyarakat, membaur selama masih dalam koridor syar’i, mudah-mudahan imej negatif itu dapat tertepis.
Perih rasanya jika bertemu dengan saudari semuslim yang berjilbab namun masih tega mencela kita yang baru dijumpainya. Seharusnya berjabat tangan.. berkenalan, eh malah mengucapkan kata yang menyakitkan. Hanya karena kita adalah pemakai cadar. What’s wrong? Baca entri selengkapnya »
Posted by: umukamilah on: September 5, 2009
Here i am.
Sore yang sama seperti sore-sore kemarin. Berdiri, menengadah. Burung-burung kecil beterbangan cepat di atas kepala. Menciricit ramai. Angin sore berdesauan, mendera menerpa dedaunan. Daun pohon aren melambai-lambai. Batang pohon bambu terangguk-angguk. Rumput-rumputan tercondong-condong. Sama.. anginnya pun masih terasa dingin.. sangat dingin. langit nyaris bersih, hanya berhiaskan jumputan awan cirrus yang sangat tinggi. Tipis-tipis, panjang-panjang. Nyaris tak berubah bentuk. Meski dengn sangat perlahan, awan tipis itu pun melebar. Baca entri selengkapnya »
Posted by: umukamilah on: Juli 22, 2009
Lebih seminggu tak menengok barang sebentar ke blog ini. Tapi saya bersyukur masih bisa membuat postingan lagi sekarang. Meskipun, mungkin tak berkesempatan membalas komen apalagi mau BW. Setidaknya masih ada tulisan baru yang dapat terbaca di sini. Pun saya tak tahu, apakah bisa kembali rutin meng-update blog setelah ini. Yah, mudah-mudahan kesempatan masih ada lagi. Meski segalanya serba tak pasti. Siapa sih yang bisa menebak…?
J Pendek kata, saya mungkin akan jarang posting… Terbersit keinginan berhenti menulis di blog. Biar konsentrasi sama kesibukan lain.. Maunya sih men-delete blog… tapi, sepertinya belum saatnya… Yah.. jalani saja yang ada. J
Well… kali ini adalah tentang ikhlas. Suatu rasa di dalam lubuk hati manusia. Baca entri selengkapnya »
Posted by: umukamilah on: Juli 7, 2009
Postingan ini agak berbeda dari tulisan-tulisan saya yang biasa. Kali ini hanya menyalin sebuah tulisan yang berisi info yang mungkin bermanfaat bagi kita blogger yang merupakan pegiat jurnalisme warga. Lumayan, buat menambah wawasan kita. Terutama untuk blog-blog yang berisikan berita-berita atau informasi-informasi.
Lewat blog kita bisa berekspresi, curhat, ataupun memberi informasi. Jadinya, kebebasan menulis semau gue pun tersalurkan. Saya pernah masuk ke blog yang mengeksploitasi informasi miring tentang seseorang atau berisi tulisan-tulisan yang bernada menghakimi. Saya jadi ingin tahu apakah dalam ngeblog kita memerlukan etika?
Akhirnya saya menemukan informasi yang “klik” dengan keingintahuan saya. Saya temukan di ETIKA No.70/Februari 2009 yang diterbitkan oleh Dewan Pers. Disana dibahas tentang kode etik jurnalisme warga. Sepertinya, kita semua perlu membacanya untuk menjadi rambu-rambu bagi kita dalam menulis informasi apapun di dalam blog kita.Ternyata sudah agak lama info ini ditulis, sekira beberapa bulan yang lalu. Berikut ini saya salin saja. Agak panjang sih, tapi sebaiknya Anda baca saja dulu… Selamat Menikmati…
Komentar Terakhir