Ummu Kamilah

Plus Minus di Setiap Diri

Posted by: umukamilah on: November 7, 2009

“Banyak jalan menuju syurga kok,” celetuk seorang ummahat. Matanya melirik saya, dengan kerlingan sedikit misterius. Saya hanya bisa mesem-mesem. Yah, tentang poligami. Banyak jalan menuju syurga, tak mesti harus dengan poligami.

Saya menyimak kelanjutan gejolak ummahat pengajian di tempat saya mengaji dari kabar-kabar yang disampaikan adik saya. Ada sedikit gejala ketakutan, takut suami mereka tergoda untuk menikah lagi. Tetapi belakangan, mereka menunjukkan gejala kecemburuan melihat rumah tangga poligami ( ta’addud) terhadap ummahat yang sudah melaksanakannya. Semacam minder, karena mereka tak mampu melaksanakannya juga. Mereka mengakui poligami itu adalah bagian dari sunnah Rasulullah SAW, namun mereka tak ingin suami mereka menikah lagi. Karena kesadaran itu mereka akhirnya sibuk mencari-cari pernyataan yang tepat untuk menutupi rasa minder mereka.

Sebenarnya tak perlu merasa rendah diri hanya karena tak sanggup dipoligami, sehingga harus mengeluarkan reaksi rontaan. Setiap manusia memiliki kelebihan lengkap dengan kekurangannya masing-masing. Ada yang minus di sini, plus disitu. Merasa minus mungkin karena tak mau ta’addud, namun mungkin juga plus di sisi yang lain, yang wanita dimadu minus di sisi yang itu. Lebih di sini, kurang di sana. Plus minus manusia itu lazim adanya.

Plus dalam melaksanakan poligami. Bermujahadah menjaga hati, melatih sabar, ikhlas, syukur, sabar, dan demikian tenang. Mmm, tampak plus dan mungkin membuat sedikit “panas” dan ketar-ketir wanita lain. Atau membuat wanita lain merasa rendah diri. Duuh, apa memang segitunya ya wanita yang dimadu itu kelihatannya.

Mau dimadu dan tak mau dimadu, tak dapat serta merta menjadi ukuran kemuliaan seorang wanita. Sangat benar perkataan ummahat yang saya tulis paling awal, banyak jalan menuju syurga. Itu jawabannya. Inna akramakum ‘indallahi atqakum. Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Taqwa ialah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Thus, banyak jalan dalam bertaqwa, banyak cara untuk meraih kemuliaan. Poligami hanyalah salah satu di antara sekian banyak jalan yang Allah Dan Rasul-Nya telah ajarkan. Nothing special about poligamy. Tak istimewa sehingga harus menerima pujian, bukan kehinaan sehingga harus menuai hujatan.

Mau tahajjud, puasa Dawud, menjaga hati dari dengki, menghindari ghibah dan namimah, bakti kepada orang tua, taat kepada suami, dan masih banyak lagi di luar amalan wajib kita. Tinggal kita pelajari saja ibadah mana yang haq, yang sesuai Al Qur’an dan As Sunnah, dan mana yang menyelisihi keduanya. Agar ibadah kita diterima oleh Allah Ta’ala.

Setiap mukmin memiliki jalan masing-masing. Setiap diri merengkuh keutamaannya sendiri-sendiri. Banyak jalan menuju syurga. Yang kita perlukan ialah fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Tak mengapa iri dengan keutamaan orang lain, namun jika tak mampu meniru tak usah berkecil hati atau sibuk mencari dalih menutupi minder yang melingkupi diri. Plus, minus itu manusiawi. Tempuh jalan kita yang mampu kita lewati. Selanjutnya Allah Yang Maha Mengetahui yang menilai kesungguhan kita, menyediakan pahalanya, dan menentukan kemuliaan kita.

Wallahu a’lam bishshawab.

Blog tampilan baru:   www.umukamilah.net.tc

Bicara Poligami Secara Sederhana

Posted by: umukamilah on: Oktober 25, 2009

Poligami.. Dari dulu memang topik yang sensitif. Tersentil sedikit maka akan ada reaksi yang bergelombang, susul menyusul, kadang serentak, pro maupun kontra. Saya seorang wanita, teramat memahami reaksi penentangan yang terjadi dari pihak wanita. Bayangan dimadu adalah hal sulit, menyakitkan, penuh kecemburuan, wajar terjadi di benak para wanita. Tetapi… ternyata banyak juga wanita yang berada dalam rumah tangga poligami. Dan hal itu adalah fakta. Kenapa ya?

Tak Ada Yang Tak Mungkin

Jika penasaran ingin tahu apa sebabnya. Rasanya tindakan bijak yang harus kita ambil adalah bertanya langsung kepada para wanita yang berada dalam lingkup rumah tangga poligami. Setelah itu mungkin sedikit banyak kita akan bisa memahami alasan mereka berpoligami. Kendati, tak menutup kemungkinan alasan mereka sangat sulit kita terima. Bahkan mungkin sekali kita tak akan pernah mempercayai apa yang kita dengar dari mereka.. Unbelievable! Tak mungkin! Mana ada wanita yang mau dimadu.. Tetapi kenyataannya ada bahkan gak cuma satu dua.. banyak. Hmmm! Kalau begitu pastinya karena terpaksa, takut sama suami, mmm ketergantungan secara ekonomi terhadap suami, mmm rendahnya tingkat pendidikan, bla…bla…bla.

Tak ada yang tak mungkin… Jika Allah Yang Membolak-balikkan hati Menghendakinya. Kenapa kita tak memikirkan alasan keyakinan dan keimanan mereka. Mereka yang berbahagia dalam hidup poligami sangat meyakini dan mengimani bahwa segala sesuatu yang bersumber dari-Nya adalah yang terbaik untuk makhluk ciptaannya. Ibaratnya nih, perlakuan terhadap sebuah sepeda motor merek tertentu, tentunya pabrik pembuatnyalah yang paling tahu sepeda motor itu mesti diapakan. Demikian juga kita manusia, Allah Yang Menciptakan kitalah yang paling mengetahui apa aturan terbaik yang harus diberlakukan kepada kita. Sedang kita tak tahu apa yang terbaik untuk kita… Baca entri selengkapnya »

Sapaan Lirih Untuk Introspeksi

Posted by: umukamilah on: Oktober 15, 2009

Dulu.. bertahun lalu. Kami duduk di teras depan rumah. Aku bersama dua akhwat asyik ngobrol ngalor ngidul sambil menebarkan pandang ke hamparan hijau di depan mata.

Setelah bincang-bincang itu berganti-ganti topik untuk ke sekian kalinya, tibalah kami pada suatu topik yang lantas kusikapi dengan komentar:

“Ya.. seperti hadits yang pertama kali kita hapalkan dalam hadits arba’in… innamal a’malu binniati…”

Kata-kataku terpotong oleh kalimat yang terucap lirih oleh salah satu akhwat,”munafik, orang hanya bisa bicara tapi gak berani menanggung resikonya..”

Lirih, memang. Tetapi tertangkap jelas olehku yang kemudian terperanjat kaget. Tapi perbincangan tetap kulanjutkan seolah tak mendengar apapun. Nada bicara, maupun warna suara kuusahakan tetap wajar. Kendati hati seolah diamuk tsunami.

Waktu beranjak malam. Sibuklah aku mengoreksi diri malam itu. Berusaha jujur dalam kerapuhan seorang “aku” yang kadang egois melakukan pembelaan diri. Baca entri selengkapnya »

Inspirasi Terindah

Posted by: umukamilah on: September 29, 2009

Justru saat deraan pedih datang bertubi-tubi. Saat itulah inspirasi terindah merentang bak pelangi warna-warni. Ketika air mata tumpah, menyungkur sujud, pasrah, saat itulah inspirasi menyapaku dan memaksa jemari menari di atas kertas kosong berpasangan dengan bolpen hitamku.

Meski kadang tak ingin aku posting-kan. Setidaknya itu memperkaya koleksi di dalam lembaran-lembaran buku. Suatu saat ia atau mereka -tulisan-tulisan itu- akan mampu melecutkan semangat menulis yang mengendur dengan mencercahkan inspirasi-inspirasi baru.

Inspirasi terindah itu muncul tiba-tiba karena Allah yang mengilhamkannya. Membantu melapangkan kesesakan. Lega melanjutkan rajutan hidup dengan semangat baru. Apa jadinya jika yang terjadi adalah kalut yang kian pekat atau pikiran keruh yang semakin merajalela.  Tentunya sampai kapan pun kita akan terus terpuruk tanpa mampu bangkit optimis. Semua inspirasi terindah adalah karena Dia sangat menyayangi hamba-Nya. Saat Dia mengatur setiap aktifitasku agar aman dari potensi melakukan kekeliruan. Aku merasakan Allah Tabaraka Wa Ta’ala menyelamatkanku dengan cara-Nya yang sukar ditebak. Wah siapalah aku ini… teramat hina. Hanyalah sebutir pasir dari luasnya pantai. Tapi subhanallah… teramat banyak karunia-Nya kuraih. Entah sudah berapa banyak. Baca entri selengkapnya »

Lebaran Untuk Memaafkan

Posted by: umukamilah on: September 23, 2009

sumber www.kutaikartanegara.com

sumber www.kutaikartanegara.com

Sehari sebelum lebaran. Melaju… dua jam lebih dari Samarinda menuju desa kecil tepi Mahakam, kecamatan Tenggarong Seberang. Perjalanannya lumayan seru. Naik turun gunung. Bila tiba di permukaan jalan tertinggi, tampak hutan hijau berlapis-lapis yang semakin jauh semakin biru. Bersaput kabut asap tipis yang membuatnya tampak samar. Nun di kejauhan sedikit nampak kelokan sungai Mahakam.

Angin kencang menampar-nampar. Jilbab berkibar-kibar. Beberapa kali mata ngantuk ini terkatup. Begitu terbuka lagi, sekeliling sontak berwarna kebiruan seperti sedang subuh. Sebentar kemudian kembali terang. Ya.. matahari sedang terik-teriknya. Hanya saja tiap kali terjaga dari tidur sekejap, selalu diawali dengan suasana gelap.

Sekian tanjakan, sekian tikungan, sampailah sudah… Alhamdulillah. Hampir Ashar…

Setalah shalat Ashar. Bercengkrama dengan sanak kerabat. Then… sunset tepat di seberang Mahakam depan rumah nenek. Jingga memantul di permukaan air yang bergelombang. Ada kapal pontoon yang terlihat samar dengan timbunan batubara berupa dua gunungan hitam berdempetan di atasnya. Perlahan membelah alur sungai. Keramba-keramba berisi ikan patin, ikan mas, juga nila, bergolak akibat gelombang air jika sewaktu-waktu perahu ketinting melintasinya.

Dulu sewaktu kecil, tepatnya saat masih  sekolah di TK, tanah tepi sungai di depan rumah nenek masih ada sekitar 8 meteran. KIni 8 m itu sudah terkikis, jalan depan rumah raib dan rumah Acil Jum seberang jalan harus memanjangkan tongkat penyangga rumah panggungnya dikarenakan di bawah rumah sekarang sudah berupa air. Bukan tanah seperti ketika awal didirikan. Baca entri selengkapnya »

Hijab Muslimah

Posted by: umukamilah on: September 5, 2009

Lagi-lagi… Islam diuji. Heboh tentang teroris. Orang-orang yang berbusana seperti Tuanku Imam Bonjol atau Pangeran Diponegoro, yakni berjubah dan bersorban  akan menyedot perhatian. Busana Islami jadi sorotan. Tak terkecuali hijab muslimah. Semoga semua pihak dapat lebih bijak memandang dan menyikapi. Pakaian mungkin serupa, namun isi kepala belum tentu sama bahkan mungkin bertentangan.

Cadar… memakainya harus pula menyadari konsekuensinya. Tanpa ada kasus bom saja sudah dilihat aneh oleh sebagian masyarakat, ditambah lagi ada kasus bom.

Berhijab, tak berarti kita menutup diri dari bergaul dengan masyarakat sekitar. Jika kita pandai-pandai bergaul dengan tetangga. Memasyarakat, membaur selama masih dalam koridor syar’i, mudah-mudahan imej negatif itu dapat tertepis.

Perih rasanya jika bertemu dengan saudari semuslim yang berjilbab namun masih tega mencela kita yang baru dijumpainya. Seharusnya berjabat tangan.. berkenalan, eh malah mengucapkan kata yang menyakitkan. Hanya karena kita adalah pemakai cadar. What’s wrong? Baca entri selengkapnya »

Sore Ramadhan

Posted by: umukamilah on: September 5, 2009

Here i am.

Sore yang sama seperti sore-sore kemarin. Berdiri, menengadah. Burung-burung kecil beterbangan cepat di atas kepala. Menciricit ramai. Angin sore berdesauan, mendera menerpa dedaunan. Daun pohon aren melambai-lambai. Batang pohon bambu terangguk-angguk. Rumput-rumputan tercondong-condong. Sama.. anginnya pun masih terasa dingin.. sangat dingin. langit nyaris bersih, hanya berhiaskan jumputan awan cirrus yang sangat tinggi. Tipis-tipis, panjang-panjang.  Nyaris tak berubah bentuk. Meski dengn sangat perlahan, awan tipis itu pun melebar. Baca entri selengkapnya »

Ikhlas Meniti dan Menata Hidup

Posted by: umukamilah on: Juli 22, 2009

Lebih seminggu tak menengok barang sebentar ke blog ini. Tapi saya bersyukur masih bisa membuat postingan lagi sekarang. Meskipun, mungkin tak berkesempatan membalas komen apalagi mau BW. Setidaknya masih ada tulisan baru yang dapat terbaca di sini. Pun saya tak tahu, apakah bisa kembali rutin meng-update blog setelah ini. Yah, mudah-mudahan kesempatan masih  ada lagi. Meski segalanya serba tak pasti. Siapa sih yang bisa menebak…?

J Pendek kata, saya mungkin akan jarang posting… Terbersit keinginan berhenti menulis di blog. Biar konsentrasi sama kesibukan lain.. Maunya sih men-delete blog… tapi, sepertinya belum saatnya…  Yah.. jalani saja yang ada. J

Well… kali ini adalah tentang ikhlas. Suatu rasa di dalam lubuk hati manusia. Baca entri selengkapnya »

Episode Kecil Kehidupan

Posted by: umukamilah on: Juli 12, 2009

musafir-copy

Menyusuri jalan kecil bersemen

Membetik sadar… terasa telah lama tapak kaki

tak menyentuh permukaannya

Sekian hari hanya melewati hari

akrabi panas yang baluti tubuhku

jadikanku tak berdaya

cuma memandang dari kaca jendela

Hingga akhirnya…

Sejuk hembus angin sore

Dengan hampar hijau rumput

dan keluasan biru langit

dapat kureguk melega napas lagi

Alhamdulillah.. jingga ufuk barat indah itu

kembali tersapu pandangku Baca entri selengkapnya »

Apakah Para Blogger Sudah Tahu?

Posted by: umukamilah on: Juli 7, 2009

Postingan ini agak berbeda dari tulisan-tulisan saya yang biasa. Kali ini hanya menyalin sebuah tulisan yang berisi info yang mungkin bermanfaat bagi kita blogger yang merupakan pegiat jurnalisme warga. Lumayan, buat menambah wawasan kita. Terutama untuk blog-blog yang berisikan berita-berita atau informasi-informasi.

Lewat blog kita bisa berekspresi, curhat, ataupun memberi informasi. Jadinya, kebebasan menulis semau gue pun tersalurkan. Saya pernah masuk ke blog yang mengeksploitasi informasi miring tentang seseorang atau berisi tulisan-tulisan yang bernada menghakimi. Saya jadi ingin tahu apakah dalam ngeblog kita memerlukan etika?

Akhirnya saya menemukan informasi yang “klik” dengan keingintahuan saya. Saya temukan di ETIKA No.70/Februari 2009 yang diterbitkan oleh Dewan Pers. Disana dibahas tentang kode etik jurnalisme warga. Sepertinya, kita semua perlu membacanya untuk menjadi rambu-rambu bagi kita dalam menulis informasi apapun di dalam blog kita.Ternyata sudah agak lama info ini ditulis, sekira beberapa bulan yang lalu. Berikut ini saya salin saja. Agak panjang sih, tapi sebaiknya Anda baca saja dulu… Selamat Menikmati…  :-)

Baca entri selengkapnya »