Pada perjalanan di suatu malam bersama teman ngobrol, teman mengutarakan
keprihatinannya tentang seorang sahabatnya yang sudah lama tak bersua dan entah bagaimana nasibnya.
“Kasihan…, aku membayangkan masa-masa sebelum terjadinya peristiwa yang membuatnya harus pergi jauh itu..” temanku menghela napasnya.
Aku bisa memahami perasaanmu, Teman.
“Ya, apalagi para sahabat sudah tak lagi ingin menjalin silaturahim dan sama tak pedulinya.” Mataku menembus kegelapan malam.
Sepeda motor menderu-deru seakan hendak melompat ketika ban motor
menerjang jalanan berbatu. Tubuhku terguncang.
“Kita memang harus benar-benar husnudzhon, yah? supaya kita tetap bisa
bersahabat tanpa membenci dan meninggalkan.” Kataku dengan suara yang beradu nyaring dengan suara deruman mesin motor.
Teman bicara menambahkan…”Tidak, tidak cukup. Kita harus punya kemakluman”. Nadanya sedikit getir.
Aku mengangguk-angguk paham. “Ya, kau benar, ketika husnudzhon sudah dikerahkan ternyata kita hanya mendapati kenyataan yang memiriskan, kita harus memiliki kemakluman..ya, kau benar.”
Mesin motor masih menderu-deru lagi. Angin menerpa-nerpa jilbab hingga
berkibaran melambai di belakang tubuh.
=========
Catatan pendek bersama teman ngobrol, terlupa pada tanggal berapa tepatnya percakapan ini terjadi.

Kemakluman apakah bermakna: memahami atau menerima bagaimanapun keadaannya entah itu baik atau buruk?
Ya, itulah peruntukan sebuah kemakluman. Karena untuk setiap hal yang sudah terjadi atau menimpa seseorang (terutama hal yang buruk), maka kemakluman saja yang tertinggal untuk kita berikan.
Maka saat kau mendapati kenyataan terburuk dari orang yang selama ini kau anggap baik. Tumbuhkanlah kekemakluman sebanyak yang kau bisa.
mungkin kita harus belajar bisa memaklumi,biar tidak sakit hati…
Pingback: CT70. LMGS G2 – ULANG TAHUN PERTAMA 2011 « LAMAN MENULIS GAYA SENDIRI G2
Mungkinkah kemakluman itu berangkat dari kesabaran? ketika husnudzhon sudah dikerahkan ternyata kita hanya mendapati kenyataan yang memiriskan, kita harus memiliki bersabar. Cocok, ya, Bu?
eh, bukan meiliki bersabar, tapi memiliki kesabaran. salah ketik, hehe…