“Masih dalam bulan Ramadhan. Banyak hal yang tertinggal dan masih dalam penjemputan. Entahlah, apakah setelah dijemput, hal yang tertinggal itu masih berada di tempatnya sehingga bisa segera dimiliki ataukah sudah aus dan menghilang lantaran kelamaan terabaikan.
”Ya, saya harus bisa”. Itu barangkali hanyalah sebuah kalimat penyemangat untuk diri agar tetap tekun, tetapi kembalilah lagi saya dengan kesadaran akan seberapa besar potensi diri yang dapat digali. Hmmm. Ternyata diri ini membutuhkan lebih dari yang ada untuk bisa mewujudkan keinginan saya yang bisa digolongkan muluk ini. Saya ingin menangis juga ingin tertawa sekaligus. Aduhai, betapa mirisnya, di usia ini barulah mendapatkan kesempatan. Tapi tidakkah saya seharusnya tersenyum penuh rasa syukur, karena pada akhirnya ada jalan yang terbuka di depan untuk saya lalui menuju sebuah alamat di mana keinginan ajaib itu bermukim.”
Iseng membuka catatan-catatan pendek yang biasa saya ketik di notepad. Bertemulah dengan sebuah tulisan pendek -yang tertulis di bulan Ramadhan lalu- di atas yang saya beri judul “Mengambil yang Tertinggal”. Sedang membacanya saya jadi seperti terbangun dari tidur. Saya langsung ingat betapa senang dan bersemangatnya saya ketika menulis itu. Meski terbumbui pesimisme bahwa saya sebenarnya tak berkemampuan untuk menjadi sesuai yang diangankan. Ah, ya sudahlah, kata saya berat dengan helaan napas dan mata yang nyaris berair. Masih ingat kok, bener. Oh, dear.
Pada detik ini saya sedang mengumpulkan sisa semangat yang sudah melorot turun dari singgasananya. Inginnya membuat tekad kuat berakar, namun saat ini justru sadar bahwa tekad kemarin hanyalah berakar serabut yang membuatnya condong nyaris tumbang tatkala terhembus tiupan angin yang sedikit kencang.
Memang belum tumbang, namun kecondongan yang memiriskan itu mengharuskan diri untuk secepatnya mencari tonggak penopang agar serabut menguat kokoh. Kendatipun tak seberapa kuat, namun tonggak yang kuat akan bisa mengamankan dan menjamin keberlangsungan tekad tetap terpancang.
Pertanyaan mungkinkah menjemput yang tertinggal, pada akhirnya berpulang ke diri saya sendiri. Seberapa terjaga saya saat melangkah sehingga dapat dipastikan diri ini akan berproses perlahan mencapai keinginan. Pada suatu titik terkadang berpikir juga, tidakkah seharusnya ini saya resapkan sejak kecil agar di usia ini keinginan itu bukanlah lagi pemandangan indah nun jauh di sana yang membutuhkan skill dan perjuangan untuk bisa menyentuhkan indera ke permukaannya. Tapi, fokus saja ke masa kini untuk berusaha menggapainya, semampunya, itu saja. Lucu, kenapa terkesan ngoyo, ya?
Hmmm. Tersenyum kecut. Tidak apa-apa. Saya hanya menebak bahwa saya akan kembali ditodong pertanyaan yang sama seperti kemarin; “bicara apa dirimu?”. Maka akan saya katakan,”sudahlah tak perlu dibahas, tahu sendiri saya ini seperti apa, bukan?” Saya biasa berpuisi, Sayang. Itulah sebabnya kau terus mengkritik betapa misteriusnya tulisan saya,
, maksudnya betapa tak jelasnya tulisan saya ini. Bahkan di awal saya belajar menulis di blog, paragraf saya hanya berisi kalimat terpatah-patah dan pelit kata-kata. Jika sekarang bisa menulis lebih panjang juga karena dirimu juga yang memberikan dorongan berlimpah. Juga keberadaan seorang adik yang diam-diam menjadi teladan bagi saya dan belum saya temukan lagi padanannya.
Thus, biarlah ini menjadi tulisan yang saya pilih berbentuk seperti ini, sederet kalimat tak jelas, namun saya yakin masih tertangkap baik buat yang menyimaknya dengan baik, kendati tidak saya tuliskan secara spesifik apakah hal yang dibahas di dalamnya. Ada kalanya saya ingin menulis semuanya secara biasa, ada saatnya saya ingin menulis dengan cara saya sendiri tak peduli jika hanya membuahkan tanda tanya padamu. Hihihi. Tidakkah itu bagus? Kan ada hal yang bisa kita bahas nantinya. Begitu… But keep telling me if you find any mistakes, yes, as usual.
Ya.. dan penuh tanya di benak saya kala membaca tulisan ini…
Namun biarkanlah saya dengan pertanyaan saya
Karena sudah sewajarnyalah sebuah kemerdekaan menulis itu untuk dimiliki
bu, baru sempat mampir lagi. maaf, ya…
“Masih dalam bulan Ramadhan. Banyak hal yang tertinggal dan masih dalam penjemputan. Entahlah, apakah setelah dijemput, hal yang tertinggal itu masih berada di tempatnya sehingga bisa segera dimiliki ataukah sudah aus dan menghilang lantaran kelamaan terabaikan.
nggak mengerti maksudnya apa, ya? dibaca dua ulang tetap nggak ngeh. mau komen aja susaaaaah, hehehehe….
Assalaamu’alaikum wr.wb, mbak yang baik…
Hadir untuk menyapa bagi terakhir kalinya sebelum mengundur diri dari keindahan persahabatan di maya. Saya sangat menghargai segala sapaan dan silaturahmi selama kita bersama.
Kita hanya bertemu lewat catatan di poskad kenangan. Hanya memandang kaburan wajah di potret khayalan. Hanya mengetik huruf-huruf di tinta minda. Maafkan saya lahir dan batin jika…. pada tutur kata yang sesekali mencalar hati dalam penulisan dan pendapat diberi.
Semoga Allah selalu memberkati persahabatan yang terjalin baik ini. Sebuah KENANGAN TERINDAH akan menyusul dalam diari kehidupan kita sebagai satu ikatan yang tidak bisa terlerai, andainya pertemuan itu bukan lagi milik kita. Doakan saya dalam kehidupan ini di dunia dan akhirat. Aamiin.
Salam mesra penuh ukhuwwah berpanjangan hingga ke akhirat dari saya Siti Fatimah Ahmad, Sarikei, Sarawak.
hmmm . . . . . kereeeeenz
Mungkinkah menjemput yang tetinggal? Mungkin saja bu….hehehe, salam kenal
mungkin mungkin saja selagi itu bisa….
Menjemput yang tertinggal.. sesuatu yang masih menjadi pikiran dimasa lalu, untuk diselesaikan saat ini atau dimasa yang akan datang…
Betul begitu kan.. apapun itu ‘barang’ atau rupanya….